Rasanya jadi the housewives
17 September 2008 at 3:36 am | In riak-riak kehidupan | Leave a CommentThe Real Dezperate Housewives, buku yang ditulis oleh Asma Nadia bersama teman-temannya di Lingkar Pena, cepat sekali ku selesaikan membacanya. Banyak hal yang ku dapatkan, banyak hikmah yang ku dapat. Buku tentang lika-liku seorang ibu rumah tangga dengan segala pernak-perniknya, penuh dengan sedih, kecewa, bahagia dan …. Dan ternyata lebih banyak cobaan dan ujian yang dihadapi seorang ibu, sedemikian besar sampai hal-hal yang rasanya tidak mungkin dilakukan oleh seorang perempuan di tangan seorang ibu dengan kesabaran luar biasa dapat menjadikan hal yang tidak mungkin menjadi mungkin dan tentunya pertolongan dari Allah jua. Pengalaman ibu-ibu itu, beberapa hal yang ku tangkap selain kesabaran adalah ‘berbagi’. Berbagi dengan orang sekitar mulai dari mertua, ipar sampai tetangga yang terdekat. Bentuk berbagi yang dikomunikasikan sehingga tidak ada yang merasa saling memiliki sendiri.
Diawal-awal pernikahanku juga kurasakan hal yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Rasanya sulit sekali untuk mensejajarkan antara idealisme dan kenyataan yang kita hadapi. Benar kata buku-buku yang pernah ku baca, banyak mengetahui teorinya tapi prakteknya tak semudah teori. Tapi berbekal firman Allah, “Allah tidak akan merubah suatu kaum jika dia tidak berusaha merubahnya”, makanya ku masih berharap dan memang harus selalu punya harapan, setidaknya kenyataan yang dihadapi diusahakan mendekati idealisme yang kita punya. Itu menurutku loh… Atau praktek hampir sejajar dengan teorinya.
Sampai hari ini, aku belum bisa menjadi istri yang solehah seperti impian atau dalam kajian-kajian yang dulu sering kuikuti atau minimal seperti ibu rumah tangga yang awam saja aku belum bisa. Bukan nggak ingin, kendala itu lahir bukan dariku tapi orang yang berada diluar RT-ku, atau tepatnya orang yang paling menyayangi suamiku. Orang lain menilai mungkin ‘enak ya masih tergantung sama ortu, masih dikasih ini…itu…’. Atau orang yang sudah mandiri akan berkata ‘wah kok masih di suapi sih, kan dah nikah dah kerja…bla.blabla’.
Sebenarnya aku dan suami punya visi dan misi yang sama, sama-sama inginnya nggak tergantung dengan siapapun, ingin mandiri dan bener-bener ingin mewujudkan keluarga samara seperti do’a dari teman-teman dan saudara waktu kita menikah. Namun mungkin hal itu akan sangat membutuhkan waktu yang lebih lama dari yang kita bayangkan. Karena tidak hanya do’a yang dipanjatkan tapi gerak langkah dan usaha yang akan Allah liat. Mungkin kita masih punya beberapa ketakutan yang sebenarnya belum perlu, jika kita bisa berkaca dengan orang lain.
Disisi lain aku memang harus banyak bersyukur, karena suami tidak menuntutku harus begini atau begitu, dia begitu paham posisiku. Kita hanya harus menuntut diri masing-masing tuk saling memahami bahwa berharap pada manusia adalah sia-sia belaka dan hanya dapat kecewa.
18 Juli 2008
17 September 2008 at 3:31 am | In riak-riak kehidupan | 1 Comment‘Tidak maksud untuk menyakiti dia yang tlah ku pilih tuk mendampingi hidupku. Semuanya berawal dari pikiran dan perasaanku sebagai seorang manusia’.
Itulah kata-kata yang terlintas pasca peristiwa 18 Juli di sore hari.
Pagi itu kandaku pamit seperti biasa hendak mengajar, dan berkata “kalo mo jalan-jalan tuk belanja gak papa”. Kata-kata itu sudah 2 kali disampaikan dan itu dikarenakan kandaku belum bisa mengantar ku tuk belanja. Entah kenapa pagi itu setelah kanda pergi, aku berfikir keras, mau ke mana. Ada beberapa pilihan tapi aku merasa kalo aku hanya akan menghabiskan waktu beberapa jam saja, setelah itu pulang, aku merasa ‘boring’ tuk di rumah, pikiranku juga lagi suntuk sekali.Terlintas difikiranku aku ingin pergi yang jauh, tidak sekedar belanja, mungkin sekaligus silaturahmi dan lain-lain. Pilihanku jatuh pada kota Jogya, karena aku dah biasa pergi sendiri kesana. Akhirnya ku persiapkan dengan baik, dari mulai ingin silatrahmi ke mana sampai kapan aku pulang. Wiwit orang pertama yang ingin ku jumpai karena dia salah satu yang bisa ku hubungi. Kami pun janjian, sambil ku berbelanja. Aku tak memberitahu kandaku karena aku berfikir toh sudah diizinkan dengan kata-katanya sebelum kerja. Dan aku pun berusaha pulang sebelum kandaku pulang.
Ya, Allah… ternyata perasaan yang ku bawa ke Jogya dan saat pulang ke Magelang telah mengusik perasaan kandaku, perasaannya begitu peka. Rencanaku dari Jogya jam 3.00 sore agar sampai rumah tepat saat biasanya kanda pulang, ternyata kandaku sudah pulang dari jam 2.00 siang karena perasaannya tidak enak. Dan kegelisahan kanda memuncak saat ‘call’ aku, saat itu aku sudah mendekati rumah dan aku pikir tak perlu diangkat karena sudah dekat. Masya Allah…hal yang tak pernah ku sangka sama sekali, kutemukan kanda di ruang tamu dengan wajah sangat cemas dan begitu melihatku langsung memelukku erat dengan tangis. Aku kaku terpaku, merasa bersalah, tak bisa menangis, ku terlalu cuek sehingga yang terfikir saat itu hanyalah aku ingin solat Ashar. Ku tunggu sampai kanda mengijinkanku tuk solat, akhirnya diizinkan. Setelah solat ku tak bisa bicara apa-apa, mau nangis rasanya airmata sudah kering.
Kanda memaksaku tuk cerita, darimana saja aku. Berat rasanya tuk cerita, melihat keadaan kanda seperti itu. Akhirnya kandaku mengajakku ketempat peraduan, tempat tuk menumpahkan segala hal, tempat dimana akhirnya banyak hal bisa terbuka, terselesaikan, mendengarkan dan didengarkan. Kuceritakan semuanya sedetail-detailnya dan kanda pun cerita kenapa pulangnya lebih cepat dari biasanya. Kami pun saling menerima satu dengan yang lain, saling memaafkan, tak ada marah semua menyadari kekurangannya masing-masing.
Allah ampunilah hambamu ini, ku tak bermaksud untuk menyakiti kandaku, ku hanya ingin sendiri dan menikmati suasana yang berbeda supaya beban yang menyesakkan dada tak membuat ku putus asa dan stress.
Maafkanlah dinda, dengan kejadian ini, dinda jadi tau betapa Allah sangat mencintai dinda dengan diberinya seorang kanda yang mencintai dinda karena Allah. ‘Amin…Insya Allah, semuanya menjadi pelajaran dan hikmah tuk lebih bijak menghadapi hidup.
Lebih mandiri Oke..
17 September 2008 at 3:30 am | In riak-riak kehidupan | Leave a CommentDipertengahan February 2008. Ditinggal sendiri ternyata ada enaknya, ada juga nggak enaknya. Sudah dua malam ditinggal diklat ma kanda, padahal masih ada 8 malam lagi he..he… baru 5 bulan jadi ‘nganten anyar’, rasanya ditinggal semalam aja binggung he..he.. Awalnya mau bobo’ susah, tapi akhirnya bisa juga.
Ada pengalaman yang dinda rasakan, yaitu yang biasanya kalau pulang kuliah dijemput, naik engkel he..he.. Biar pinter n terbiasa. Trus kanda kasih bekal coklat buat ngemil, wah malah dindanya tambah endut.
Dinda jadi lebih mandiri dan kuat n bisa ngerasain gimana rasanya istri yang ditinggal ma suami..he..he.. apalagi semenjak punya kanda, dinda rada-rada manja alias mandi jarang he..he..hi..
Yah semuanya juga buat dinda, karena karir kanda yang mengabdi sebagai motivator, fasilitator ilmu jadi meningkat dan lebih dihargai. Bersyukur karena buat kesejahteraan rumah tangga juga.
Assalamu’alaikum ya.. akhi ya.. ukhti
17 September 2008 at 3:20 am | In senyum salam sapa | Leave a CommentAssalamu’alaikum. Apa kabar saudaraku semua? Maafkan diriku yang telah lama tidak menyapa dan sudah lama juga tidak berbagi rasa…he..he..Banyak hal yang terjadi setelah Allah kabulkan do’a saudaraku semua, yang pingin ‘mbak’ yang sudah lama sendiri ini mendapatkan seseorang yang mendampingi. Jika saatnya tiba ternyata juga akan diberi..he…he..Alhamdulillah, diberi yang soleh. Tinggal bagaimana sebagai hambanya tuk merawat pemberiannya
Saudaraku, banyak yang ingin kusampaikan dalam perjalanan hidup ini, ingin ku bagi sedikit rasa dan pikiran atas hikmah yang dapat ditemukan dimana saja dalam hal apapun.
Saudaraku, kita sudah mengenal kata-kata bahwa ‘tidak mudah untuk mengaplikasikan teori? Tapi tidak sepenuhnya benar, kalau idealisme itu tetap kita pegang tapi tetap berlandaskan realita yang ada dihadapan, Insya Allah teori itu dapat diterapkan.
Saudaraku, jadilah orang yang baik, yang soleh, karena pasanganmu akan seperti dirimu, dan semua kebaikan yang kamu lakukan akan kembali padamu. Dan saat kamu berada di lingkungan yang baik-baik, rasa nyaman akan kamu temukan dan rasa syukurpun menjadi suatu kebiasaan.
Saudaraku, izinkanku mengungkapkan rasa cintaku ini pada kalian semua, yang telah mengenalku, yang telah memberikanku warna kehidupan yang tak terlupakan seumur hidup, yang telah banyak memberikan hikmah dan makna kehidupan, tegurku dalam khilaf. I Love U, All. Ukhuwah ini harus tetap terjalin sampai akhir hayat.
Akhirnya….
15 Agustus 2008 at 5:27 am | In riak-riak kehidupan | Leave a CommentAkhirnya…. dah sekian lama pingin punya blog sendiri, terwujud juga. Yah walaupun mungkin belum bisa sering-sering di update tapi setidaknya, luapan perasaan yang tidak dapat atau tidak sempat diungkapkan pada kesempatan yang lain akan bisa tertuang disini. Dan juga bisa meluapkan rasa kangen pada saudara-saudaraku tercinta yang tidak dapat diungkapkan dan tidak dapat dilupakan. Semuanya sudah terlanjur mewarnai kehidupan ini. Alhamdulillah. Semoga blog ini ada manfaatnya…
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.