18 Juli 2008

‘Tidak maksud untuk menyakiti dia yang tlah ku pilih tuk mendampingi hidupku. Semuanya berawal dari pikiran dan perasaanku sebagai seorang manusia’.

Itulah kata-kata yang terlintas pasca peristiwa 18 Juli di sore hari.

Pagi itu kandaku pamit seperti biasa hendak mengajar, dan berkata “kalo mo jalan-jalan tuk belanja gak papa”. Kata-kata itu sudah 2 kali disampaikan dan itu dikarenakan kandaku belum bisa mengantar ku tuk belanja. Entah kenapa pagi itu setelah kanda pergi, aku berfikir keras, mau ke mana. Ada beberapa pilihan tapi aku merasa kalo aku hanya akan menghabiskan waktu beberapa jam saja, setelah itu pulang, aku merasa ‘boring’ tuk di rumah, pikiranku juga lagi suntuk sekali.Terlintas difikiranku aku ingin pergi yang jauh, tidak sekedar belanja, mungkin sekaligus silaturahmi dan lain-lain. Pilihanku jatuh pada kota Jogya, karena aku dah biasa pergi sendiri kesana. Akhirnya ku persiapkan dengan baik, dari mulai ingin silatrahmi ke mana sampai kapan aku pulang. Wiwit orang pertama yang ingin ku jumpai karena dia salah satu yang bisa ku hubungi. Kami pun janjian, sambil ku berbelanja. Aku tak memberitahu kandaku karena aku berfikir toh sudah diizinkan dengan kata-katanya sebelum kerja. Dan aku pun berusaha pulang sebelum kandaku pulang.

Ya, Allah… ternyata perasaan yang ku bawa ke Jogya dan saat pulang ke Magelang telah mengusik perasaan kandaku, perasaannya begitu peka. Rencanaku dari Jogya jam 3.00 sore agar sampai rumah tepat saat biasanya kanda pulang, ternyata kandaku sudah pulang dari jam 2.00 siang karena perasaannya tidak enak. Dan kegelisahan kanda memuncak saat ‘call’ aku, saat itu aku sudah mendekati rumah dan aku pikir tak perlu diangkat karena sudah dekat. Masya Allah…hal yang tak pernah ku sangka sama sekali, kutemukan kanda di ruang tamu dengan wajah sangat cemas dan begitu melihatku langsung memelukku erat dengan tangis. Aku kaku terpaku, merasa bersalah, tak bisa menangis, ku terlalu cuek sehingga yang terfikir saat itu hanyalah aku ingin solat Ashar. Ku tunggu sampai kanda mengijinkanku tuk solat, akhirnya diizinkan. Setelah solat ku tak bisa bicara apa-apa, mau nangis rasanya airmata sudah kering.

Kanda memaksaku tuk cerita, darimana saja aku. Berat rasanya tuk cerita, melihat keadaan kanda seperti itu. Akhirnya kandaku mengajakku ketempat peraduan, tempat tuk menumpahkan segala hal, tempat dimana akhirnya banyak hal bisa terbuka, terselesaikan, mendengarkan dan didengarkan. Kuceritakan semuanya sedetail-detailnya dan kanda pun cerita kenapa pulangnya lebih cepat dari biasanya. Kami pun saling menerima satu dengan yang lain, saling memaafkan, tak ada marah semua menyadari kekurangannya masing-masing.

Allah ampunilah hambamu ini, ku tak bermaksud untuk menyakiti kandaku, ku hanya ingin sendiri dan menikmati suasana yang berbeda supaya beban yang menyesakkan dada tak membuat ku putus asa dan stress.

Maafkanlah dinda, dengan kejadian ini, dinda jadi tau betapa Allah sangat mencintai dinda dengan diberinya seorang kanda yang mencintai dinda karena Allah. ‘Amin…Insya Allah, semuanya menjadi pelajaran dan hikmah tuk lebih bijak menghadapi hidup.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: