Posts Tagged ‘Kisah Hikmah’

Kisah lalu yang tak akan terlupakan

Kisah ini memang sengaja ku simpan dalam hati dan kehidupanku, satu hal yang menjadi keinginanku semenjak sebelum dan sesudah berumah tangga. Bukan untuk durhaka pada suami, tapi semuanya sudah melalui proses yang panjang dalam pikiran dan hatiku. “Belajar Mandiri”… yah itulah kata yang tepat untuk mewakili semuanya. Walaupun latar belakang keluargaku tidak terlalu mengajar untuk hal itu, tapi kemandirian itu sudah jauh semenjak ku kecil sudah tumbuh dalam benakku. Waktu kecil di rumah sudah ada pembantu, jika sekolah uang jajan sudah disiapkan setiap harinya, …yah aku bersyukur. Di alam pikiran kanak-kanakku sering terlintas bagaimana orang sulitnya mencari “uang” (nafkah), bagaimana rasanya orang yang sudah bersusah payah bekerja tapi untuk makan saja tidak cukup….hal kecil-kecil itulah yang semakin membangkitkanku untuk tau dan merasakan sendiri susah senangnya hidup mandiri dengan usaha sendiri, tanpa harus mengalami sedikit kesulitan tapi tidak bisa mengatasi sendiri.

Dari semua hal itulah makanya saat ku berumahtanggapun ingin ku terapkan dalam keluargaku kelak, agar menular pada anak keturunan yang tidak takut dengan kerja keras untuk meraih apa yang diinginkan. Tapi apa yang ku cita-citakan ini tidak semulus yang aku bayangkan. Suamiku juga punya impian yang sama dengan ku, tapi entahlah kadang aku belum bisa memahami jalan pikirannya. Di dalam sebuah buku “Psikologi Suami Istri”, ku temukan jawaban itu, bahwa laki-laki mempunyai cara berfikir yang berbeda dengan wanita, sehingga sering oleh wanita diartikan berbeda. Laki-laki cenderung berfikir jangka pendek, atau saat ini juga baru melakukan tindakan atau keputusan. Sedangkan wanita atau istri cenderung berfikir yang belum terjadi atau yang akan terjadi dengan menyiapkan berbagai kemungkinannya. Itulah sebagian kecil yang sudah kurasakan sendiri.
Kira-kira hampir genap 3 tahun pernikahan, sejak lama ku memendam rasa yang terkadang kucurahkan pada suamiku tapi seolah tiada respon yang berarti, malah terkadang aku yang harus selalu mengalah dan disalahkan. Akhirnya beberapa hari setelah hari lahirku, ku merasa perlu menenangkan diri sambil ku tuliskan beberapa baris sms pada suamiku agar dia berfikir jernih tanpa aku disisinya untuk sementara waktu. Masih ku simpan sms itu.
Baca lebih lanjut

Aku Mencintaimu, Suamiku…

aku menangis membaca ini…. (Aku Mencintaimu, Suamiku…)

Oleh Fatania Latifa

Cerita ini adalah kisah nyata… di mana perjalanan hidup ini ditulis oleh seorang istri dalam sebuah laptopnya.

Bacalah, semoga kisah nyata ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Cinta itu butuh kesabaran…Sampai di manakah kita harus bersabar menanti cinta kita??? Hari itu.. aku dengannya berkomitmen untuk menjaga cinta kita..
Aku menjadi perempuan yg paling bahagia…..
Pernikahan kami sederhana namun meriah….. Ia menjadi pria yang sangat romantis pada waktu itu.
Aku bersyukur menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan & mapan pula. Ketika kami berpacaran dia sudah sukses dalam karirnya.

Kami akan berbulan madu di tanah suci, itu janjinya ketika kami berpacaran dulu.. Dan setelah menikah, aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci….
Aku sangat bahagia dengannya, dan dianya juga sangat memanjakan aku… sangat terlihat dari rasa cinta dan rasa sayangnya pada ku. Banyak orang yang bilang kami adalah pasangan yang serasi. Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Dan aku bahagia menikah dengannya.

Lima tahun berlalu sudah kami menjadi suami istri, sangat tak terasa waktu begitu cepat berjalan walaupun kami hanya hidup berdua saja karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil (bayi) di tengah keharmonisan rumah tangga kami. Karena dia anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya, jadi aku harus berusaha untuk mendapatkan penerus generasi baginya.

Alhamdulillah saat itu suamiku mendukungku… Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan-NYA. Tapi keluarganya mulai resah. Dari awal kami menikah, ibu & adiknya tidak menyukaiku. Aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka, namun aku selalu berusaha menutupi hal itu dari suamiku…

Didepan suami ku mereka berlaku sangat baik padaku, tapi dibelakang suami ku, aku dihina-hina oleh mereka Pernah suatu ketika satu tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan, mobilnya hancur. Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir membuat ku menjadi seorang janda itu.

Ia dirawat dirumah sakit pada saat dia belum sadarkan diri setelah kecelakaan. Aku selalu menemaninya siang & malam sambil kubacakan ayat-ayat suci Al – Qur’an. Aku sibuk bolak-balik dari rumah sakit dan dari tempat aku melakukan aktivitas sosial ku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karena kecelakaan.

Namun saat ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami, aku melihat di dalam kamarnya ada ibu, adik-adiknya dan teman-teman suamiku, dan disaat itu juga.. aku melihat ada seorang wanita yang sangat akrab mengobrol dengan ibu mertuaku. Mereka tertawa menghibur suamiku.

Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat suami ku sudah sadar, tapi aku tak boleh sedih di hadapannya.

Kubuka pintu yang tertutup rapat itu sambil mengatakan, “Assalammu’alaikum” dan mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua melihatku. Suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup.
Baca lebih lanjut

18 Juli 2008

‘Tidak maksud untuk menyakiti dia yang tlah ku pilih tuk mendampingi hidupku. Semuanya berawal dari pikiran dan perasaanku sebagai seorang manusia’.

Itulah kata-kata yang terlintas pasca peristiwa 18 Juli di sore hari.

Pagi itu kandaku pamit seperti biasa hendak mengajar, dan berkata “kalo mo jalan-jalan tuk belanja gak papa”. Kata-kata itu sudah 2 kali disampaikan dan itu dikarenakan kandaku belum bisa mengantar ku tuk belanja. Entah kenapa pagi itu setelah kanda pergi, aku berfikir keras, mau ke mana. Ada beberapa pilihan tapi aku merasa kalo aku hanya akan menghabiskan waktu beberapa jam saja, setelah itu pulang, aku merasa ‘boring’ tuk di rumah, pikiranku juga lagi suntuk sekali.Terlintas difikiranku aku ingin pergi yang jauh, tidak sekedar belanja, mungkin sekaligus silaturahmi dan lain-lain. Pilihanku jatuh pada kota Jogya, karena aku dah biasa pergi sendiri kesana. Akhirnya ku persiapkan dengan baik, dari mulai ingin silatrahmi ke mana sampai kapan aku pulang. Wiwit orang pertama yang ingin ku jumpai karena dia salah satu yang bisa ku hubungi. Kami pun janjian, sambil ku berbelanja. Aku tak memberitahu kandaku karena aku berfikir toh sudah diizinkan dengan kata-katanya sebelum kerja. Dan aku pun berusaha pulang sebelum kandaku pulang.

Ya, Allah… ternyata perasaan yang ku bawa ke Jogya dan saat pulang ke Magelang telah mengusik perasaan kandaku, perasaannya begitu peka. Rencanaku dari Jogya jam 3.00 sore agar sampai rumah tepat saat biasanya kanda pulang, ternyata kandaku sudah pulang dari jam 2.00 siang karena perasaannya tidak enak. Dan kegelisahan kanda memuncak saat ‘call’ aku, saat itu aku sudah mendekati rumah dan aku pikir tak perlu diangkat karena sudah dekat. Masya Allah…hal yang tak pernah ku sangka sama sekali, kutemukan kanda di ruang tamu dengan wajah sangat cemas dan begitu melihatku langsung memelukku erat dengan tangis. Aku kaku terpaku, merasa bersalah, tak bisa menangis, ku terlalu cuek sehingga yang terfikir saat itu hanyalah aku ingin solat Ashar. Ku tunggu sampai kanda mengijinkanku tuk solat, akhirnya diizinkan. Setelah solat ku tak bisa bicara apa-apa, mau nangis rasanya airmata sudah kering.

Kanda memaksaku tuk cerita, darimana saja aku. Berat rasanya tuk cerita, melihat keadaan kanda seperti itu. Akhirnya kandaku mengajakku ketempat peraduan, tempat tuk menumpahkan segala hal, tempat dimana akhirnya banyak hal bisa terbuka, terselesaikan, mendengarkan dan didengarkan. Kuceritakan semuanya sedetail-detailnya dan kanda pun cerita kenapa pulangnya lebih cepat dari biasanya. Kami pun saling menerima satu dengan yang lain, saling memaafkan, tak ada marah semua menyadari kekurangannya masing-masing.

Allah ampunilah hambamu ini, ku tak bermaksud untuk menyakiti kandaku, ku hanya ingin sendiri dan menikmati suasana yang berbeda supaya beban yang menyesakkan dada tak membuat ku putus asa dan stress.

Maafkanlah dinda, dengan kejadian ini, dinda jadi tau betapa Allah sangat mencintai dinda dengan diberinya seorang kanda yang mencintai dinda karena Allah. ‘Amin…Insya Allah, semuanya menjadi pelajaran dan hikmah tuk lebih bijak menghadapi hidup.